Takziah kepada penyelia ruangan Jumaat dari Kelab MATRADE kerana kehilangan ayahanda yang dikasihi yang telah dipanggil oleh Ilahi kembali ke Rahmatullah. Semoga roh Allahyarham dicucuri rahmat dan ditempatkan di kalangan orang-orang yang soleh. Al Fatihah.
NOTA: Bahasa digunakan dalam Renungan Agama di bawah ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia.
KHUSYUK DAN TUMAKNINAH DALAM SHALAT
Waktu solat adalah waktu singkat yang sangat berharga bagi seorang muslim, karena ia sedang menghadap dan bermunajat kepada Rabbnya yang Maha tinggi dan Maha Agung, oleh karena itu hendaknya setiap dari kita berusaha untuk meninggalkan segala kesibukan duniawi dan menghadapkan wajah kita kepada Allah dengan penuh khusuk dan tunduk mengharapkan keredhaan-Nya, akan tetapi banyak diantara kita yang merasakan hilangnya atau berkurangnya khusyu dalam solat kita, dan hal itu dipangaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah:
- Kerana kita tidak memahami makna doa-doa dan bacaan yang ada dalam solat.
- Tidak merenungi isi dan kandungan solat kita.
- Banyaknya beban fkiran atau urusan yang belum diselesaikan ketika kita hendak melakukan solat.
- Tidak menghadirkan hati dan jiwa kita ketika mulai takbirattul ikhram sehingga fikiran kita melayang kemana-mana dan memikirkan hal-hal diluar solat.
- Tidak menghadirkan kesedaran kita bahawa kita sedang berdiri dihadapan Allah swt yang Maha Agung.
- Di Samping itu kita juga sering tidak Tumakninah (tenang) dalam melakukan solat, padahal itu termasuk kesalahan besar yang disebut oleh Rasulullah saw, sebagai sebuah pencurian, bahkan pencurian terbesar adalah pencurian dalam solat. Rasulullah r bersabda yang maksudnya:
"Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam solatnya", mereka bertanya:
"Bagaimana ia mencuri dalam solatnya?" Beliau menjawab: "(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya".
Meninggalkan thuma’ninah, tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk diantara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin.
Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam solatnya.
Thuma’ninah adalah rukun solat, tanpa melakukannya solat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah saw bersabda yang maksudnya:
"Tidak sah solat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud ".
Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.
Abu Abdillah Al Asy’ari t berkata: "(suatu ketika) Rasulullah saw solat bersama sahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan solat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah saw barsabda yang maksudnya:
"Apakah kalian menyaksikan orang ini?, barang siapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (solatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam solatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang solat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya".
Zaid bin Wahb rahimahullah berkata: "Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata: "Kamu belum solat, seandainya engkau mati (dengan membawa solat seperti ini), niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad saw".
Orang yang tidak thuma’ninah dalam solat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi solatnya seketika dan bertaubat atas solat-solat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi solat-solatnya di masa lalu, berdasarkan hadits:
"Kembalilah, dan solatlah, sesungguhnya engkau belum solat".
BAGAIMANA CARA KITA UNTUK DAPAT KHUSYUK DAN TUMAKNINAH?
Ada beberapa cara yang mungkin kita bisa tempuh agar kita bisa khusyuk dalam solat kita, dan bisa merenungi makna dan kandungan doa-doa kita dalam solat, serta menjauhkan godaan dan bisikan syaitan yang merusak solat kita, hal-hal tersebut diantaranya adalah:
1. Merasakan keagungan Allah dan menghadirkan segenap perasaan kita ketika hendak atau sedang melakukan solat. Ketika kita mengatakan (Allah Maha Besar), maka dibenak kita tidak ada yang lebih besar dari-Nya, dan meninggalkan seluruh urusan duniawi dibelakang kita, kita juga harus tahu bahwa tidaklah ada bagi seseorang dari pahala solatnnya kescuali sesuai dengan apa yang ia sadari dan ia mengerti darinya, dengan kata lain jika kita lalai ditengah-tengah solat kita dan tidak menyadari apa yang sedang kita baca maka kita tidak akan memperoleh apa-apa dari solat kita. Oleh karena itu ketika kita solat hendaknya kita konsentrasi penuh untuk menjaga kesinambungan hubungan kita dengan Pencipta dan terus berusaha untuk memahami dan menyadari doa dan bacaan-bacaan yang kita lantunkan selama solat.
2. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah semata. Kerana semua amal perbuatan kita tergantung kepada niatnya.
3. Memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah, kerana dengan banyak beristighfar hati kita akan bersih dan tenang, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau beristighfar dalam sehari semalam tidak kurang dari tujuh puluh kali.
4. Meninggalkan maksiat. Kerana ia menyebabkan kegundahan dan meninggalkan noda dihati.
5. Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaitan dan godaanya.
6. Banyak berdoa kepada Allah, kerana ia adalah senjata setiap muslim, mohonlah agar dimudahkan untuk menjalani ketaatan kepada-Nya dan dijauhkan dari fitnah dan cubaan baik yang nampak maupun yang tidak nampak.
Jika kita mengikuti dan mempraktikan langkah-langkah ini, insya Allah kita akan dimudahkan untuk bisa khusyuk dalam solat dan semua ibadah kita.
Adapun Tumakninah dapat kita lakukan jika kita bisa tenang dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan solat, setiap gerakan dan perpindahan dari satu posisi keposisi lain kita lakukan dengan tenang dan perlahan serta tidak tergesa-gesa, terutama ketika ruku', I'tidal (bangkit dari ruku'), sujud, dan duduk diantara dua sujud. Ketika kita ruku', punggung harus lurus dengan tidak menunduk atau naik keatas, tetapi posisi punggung dan kepala rata kedepan, bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah ketika ruku' seandainya diatas punggung beliau ditaruh bejana berisi air ia tidak tumpah. Sedangkan ketika bangkit dari ruku' kita harus sampai berdiri tegak baru turun untuk sujud, dan tidak boleh tergesa-gesa turun sebelum kita benar-benar berdiri tegak lurus seperti ketika berdiri mebaca fatihah. Tumakninah merupakan rukun solat yang jika kita tinggalkan maka solat kita tidak sah dan wajib diulang.
Sumber: Biro Agama Kelab MATRADE
NOTA: Bahasa digunakan dalam Renungan Agama di bawah ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia.
KHUSYUK DAN TUMAKNINAH DALAM SHALAT
Waktu solat adalah waktu singkat yang sangat berharga bagi seorang muslim, karena ia sedang menghadap dan bermunajat kepada Rabbnya yang Maha tinggi dan Maha Agung, oleh karena itu hendaknya setiap dari kita berusaha untuk meninggalkan segala kesibukan duniawi dan menghadapkan wajah kita kepada Allah dengan penuh khusuk dan tunduk mengharapkan keredhaan-Nya, akan tetapi banyak diantara kita yang merasakan hilangnya atau berkurangnya khusyu dalam solat kita, dan hal itu dipangaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah:
- Kerana kita tidak memahami makna doa-doa dan bacaan yang ada dalam solat.
- Tidak merenungi isi dan kandungan solat kita.
- Banyaknya beban fkiran atau urusan yang belum diselesaikan ketika kita hendak melakukan solat.
- Tidak menghadirkan hati dan jiwa kita ketika mulai takbirattul ikhram sehingga fikiran kita melayang kemana-mana dan memikirkan hal-hal diluar solat.
- Tidak menghadirkan kesedaran kita bahawa kita sedang berdiri dihadapan Allah swt yang Maha Agung.
- Di Samping itu kita juga sering tidak Tumakninah (tenang) dalam melakukan solat, padahal itu termasuk kesalahan besar yang disebut oleh Rasulullah saw, sebagai sebuah pencurian, bahkan pencurian terbesar adalah pencurian dalam solat. Rasulullah r bersabda yang maksudnya:
"Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam solatnya", mereka bertanya:
"Bagaimana ia mencuri dalam solatnya?" Beliau menjawab: "(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya".
Meninggalkan thuma’ninah, tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk diantara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin.
Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam solatnya.
Thuma’ninah adalah rukun solat, tanpa melakukannya solat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah saw bersabda yang maksudnya:
"Tidak sah solat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud ".
Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.
Abu Abdillah Al Asy’ari t berkata: "(suatu ketika) Rasulullah saw solat bersama sahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan solat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah saw barsabda yang maksudnya:
"Apakah kalian menyaksikan orang ini?, barang siapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (solatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam solatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang solat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya".
Zaid bin Wahb rahimahullah berkata: "Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata: "Kamu belum solat, seandainya engkau mati (dengan membawa solat seperti ini), niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad saw".
Orang yang tidak thuma’ninah dalam solat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi solatnya seketika dan bertaubat atas solat-solat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi solat-solatnya di masa lalu, berdasarkan hadits:
"Kembalilah, dan solatlah, sesungguhnya engkau belum solat".
BAGAIMANA CARA KITA UNTUK DAPAT KHUSYUK DAN TUMAKNINAH?
Ada beberapa cara yang mungkin kita bisa tempuh agar kita bisa khusyuk dalam solat kita, dan bisa merenungi makna dan kandungan doa-doa kita dalam solat, serta menjauhkan godaan dan bisikan syaitan yang merusak solat kita, hal-hal tersebut diantaranya adalah:
1. Merasakan keagungan Allah dan menghadirkan segenap perasaan kita ketika hendak atau sedang melakukan solat. Ketika kita mengatakan (Allah Maha Besar), maka dibenak kita tidak ada yang lebih besar dari-Nya, dan meninggalkan seluruh urusan duniawi dibelakang kita, kita juga harus tahu bahwa tidaklah ada bagi seseorang dari pahala solatnnya kescuali sesuai dengan apa yang ia sadari dan ia mengerti darinya, dengan kata lain jika kita lalai ditengah-tengah solat kita dan tidak menyadari apa yang sedang kita baca maka kita tidak akan memperoleh apa-apa dari solat kita. Oleh karena itu ketika kita solat hendaknya kita konsentrasi penuh untuk menjaga kesinambungan hubungan kita dengan Pencipta dan terus berusaha untuk memahami dan menyadari doa dan bacaan-bacaan yang kita lantunkan selama solat.
2. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah semata. Kerana semua amal perbuatan kita tergantung kepada niatnya.
3. Memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah, kerana dengan banyak beristighfar hati kita akan bersih dan tenang, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau beristighfar dalam sehari semalam tidak kurang dari tujuh puluh kali.
4. Meninggalkan maksiat. Kerana ia menyebabkan kegundahan dan meninggalkan noda dihati.
5. Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaitan dan godaanya.
6. Banyak berdoa kepada Allah, kerana ia adalah senjata setiap muslim, mohonlah agar dimudahkan untuk menjalani ketaatan kepada-Nya dan dijauhkan dari fitnah dan cubaan baik yang nampak maupun yang tidak nampak.
Jika kita mengikuti dan mempraktikan langkah-langkah ini, insya Allah kita akan dimudahkan untuk bisa khusyuk dalam solat dan semua ibadah kita.
Adapun Tumakninah dapat kita lakukan jika kita bisa tenang dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan solat, setiap gerakan dan perpindahan dari satu posisi keposisi lain kita lakukan dengan tenang dan perlahan serta tidak tergesa-gesa, terutama ketika ruku', I'tidal (bangkit dari ruku'), sujud, dan duduk diantara dua sujud. Ketika kita ruku', punggung harus lurus dengan tidak menunduk atau naik keatas, tetapi posisi punggung dan kepala rata kedepan, bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah ketika ruku' seandainya diatas punggung beliau ditaruh bejana berisi air ia tidak tumpah. Sedangkan ketika bangkit dari ruku' kita harus sampai berdiri tegak baru turun untuk sujud, dan tidak boleh tergesa-gesa turun sebelum kita benar-benar berdiri tegak lurus seperti ketika berdiri mebaca fatihah. Tumakninah merupakan rukun solat yang jika kita tinggalkan maka solat kita tidak sah dan wajib diulang.
Sumber: Biro Agama Kelab MATRADE
Comments